KENDARI,— Kegiatan Pembinaan Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan bagi mahasiswa penerima Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) resmi dibuka di Hotel Sahid Azizah Syariah, Kendari,
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menjadi bagian dari upaya membentuk mahasiswa yang berkarakter, mandiri, berwawasan kebangsaan, serta mampu menyelesaikan pendidikan tinggi tepat waktu.
Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Wakil Rektor I Universitas Halu Oleo (UHO), Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande, S.P., M.P., yang mewakili Plt. Rektor UHO, Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.E.Eng.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan sejumlah pemateri, di antaranya Dr. Herman, S.H., LL.M.; Dr. Kelly Opas Krey, S.Pd., M.Si., selaku Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulawesi Tenggara; serta Kapten Ckm La Ode Muh. Ilham, S.Kep., M.M.
Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi pertama oleh Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande yang mengangkat tema “Mengoptimalisasi Potensi Akademik dan Fasilitas Kampus untuk Lulus Tepat Waktu.”
Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir, kemandirian, keaktifan dalam proses pembelajaran, serta kemampuan mahasiswa mengenali potensi diri sebagai modal utama untuk meraih keberhasilan akademik.
Prof. La Ode Santiaji mengingatkan mahasiswa penerima Beasiswa ADik agar mensyukuri dan memanfaatkan kesempatan pendidikan yang telah diberikan pemerintah. Menurutnya, beasiswa bukan sekadar bantuan pembiayaan pendidikan, melainkan peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Ia berharap mahasiswa tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan memiliki komitmen kuat untuk menyelesaikan studi sesuai target waktu.
“Kita harus bangga mendapatkan beasiswa ini. Kalian bukan sekadar diberikan bantuan secara gratis, tetapi diberikan kunci emas sebagai akses menuju masa depan,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia menegaskan, kesempatan memperoleh beasiswa harus diimbangi dengan kesungguhan belajar, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus mengembangkan kemampuan diri.
Menurutnya, keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh kesempatan memasuki perguruan tinggi, tetapi juga oleh kemampuan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meraih prestasi dan menyelesaikan pendidikan.
Dalam materi tersebut, Prof. La Ode Santiaji juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir atau mindset ketika memasuki dunia perguruan tinggi.
Ia mengingatkan bahwa pola belajar mahasiswa harus berbeda dari kebiasaan ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Di perguruan tinggi, mahasiswa dituntut lebih mandiri, aktif, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.
Mahasiswa tidak boleh hanya mengandalkan penjelasan dosen di ruang kuliah. Mereka perlu membangun kebiasaan membaca, mencari referensi, berdiskusi, serta memperdalam materi secara mandiri.
Dalam konteks tersebut, dosen berperan membimbing dan memfasilitasi proses pembelajaran, sedangkan mahasiswa harus mengambil inisiatif untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa penerima ADik agar memanfaatkan fasilitas akademik yang tersedia di kampus, termasuk perpustakaan dan sarana pembelajaran lainnya, untuk menunjang keberhasilan studi.
Perubahan pola pikir tersebut diharapkan dapat membentuk mahasiswa yang lebih disiplin, percaya diri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan selama menempuh pendidikan tinggi.
Selain membahas kemandirian belajar, Prof. La Ode Santiaji menekankan pentingnya mengenali potensi diri. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami kelebihan dan kebutuhan belajarnya agar dapat menentukan strategi pembelajaran yang efektif.
Ia menjelaskan tiga kecenderungan belajar yang umum dikenal, yaitu visual, auditori, dan kinestetik.
Pertama, visual, yakni kecenderungan memahami informasi melalui penglihatan, seperti gambar, diagram, grafik, dan catatan tertulis.
Kedua, auditori, yakni kecenderungan memahami informasi melalui pendengaran, seperti penjelasan lisan, diskusi, dan kegiatan menyimak.
Ketiga, kinestetik, yakni kecenderungan belajar melalui aktivitas dan praktik langsung, seperti simulasi, eksperimen, dan pengalaman lapangan.
Pengenalan terhadap berbagai kecenderungan tersebut diharapkan membantu mahasiswa menemukan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Meski demikian, mahasiswa tetap perlu mengembangkan beragam metode belajar agar mampu memahami materi perkuliahan secara menyeluruh.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk terus menggali kemampuan diri, mengevaluasi kekurangan, dan mengembangkan potensi yang dimiliki sebagai bekal menyelesaikan pendidikan.
Selain penguatan kemampuan akademik, kegiatan tersebut menjadi wadah pembinaan karakter mahasiswa agar memiliki semangat nasionalisme, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran untuk menjaga persatuan bangsa.
Kehadiran para pemateri dari berbagai bidang diharapkan dapat memperluas wawasan peserta sekaligus memberikan bekal pengetahuan yang bermanfaat selama menjalani pendidikan tinggi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa penerima ADik diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan pendidikan secara optimal, meningkatkan prestasi akademik, serta membangun karakter yang kuat sebagai generasi penerus bangsa.
Pesan yang ditekankan dalam materi pertama tersebut adalah pentingnya perubahan pola pikir dan kemandirian dalam belajar. Dengan kesungguhan, kedisiplinan, serta kemampuan mengenali potensi diri, mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan studi tepat waktu dan mempersiapkan diri menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
Laporan : Redaksi













