Kendari – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober menjadi momentum penting bagi Ketua Ratu Prabu Sulawesi Tenggara (Sultra), Ashar Rasyid, untuk menyampaikan peringatan keras kepada para pejabat di daerah. Ia menegaskan agar tidak ada lagi penyalahgunaan kekuasaan, khususnya dalam pengelolaan sektor industri nikel yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Sultra.
Menurut Ashar, Pancasila tidak boleh sekadar dijadikan slogan tahunan yang dibacakan saat upacara. Lebih dari itu, nilai-nilainya harus diwujudkan dalam tindakan nyata pejabat negara. “Kalau hanya dibaca tanpa diimplementasikan, sama saja dengan mengkhianati Pancasila,” ujarnya.
Ia menyoroti praktik umum di daerah kaya sumber daya alam, di mana oknum pejabat kerap berkompromi dengan investor. Kondisi ini berujung pada kongkalikong yang menguntungkan segelintir pihak, sementara rakyat sebagai pemilik hak justru dikorbankan.
“Ketika pejabat bermain mata dengan investor, kepentingan rakyat pasti terabaikan. Itu bentuk pengkhianatan yang tidak bisa ditolerir,” tegasnya.
Sebagai putra daerah asal Kolaka, Ashar menyatakan dirinya siap berdiri di garis depan untuk mengawal, menyuarakan, sekaligus menindaklanjuti laporan masyarakat terkait praktik penyalahgunaan kekuasaan di sektor pertambangan. “Jika ada pejabat terbukti bermain dengan investor, dia layak disebut penghianat rakyat,” katanya menegaskan.
Ashar mengungkapkan, dari total Rp11 triliun investasi yang masuk ke Sultra, Kolaka sendiri menyumbang Rp6 triliun. Angka besar tersebut menurutnya harus benar-benar berimplikasi pada kesejahteraan masyarakat, bukan menjadi ajang bancakan elite.
“Investasi besar itu semestinya menjanjikan kesejahteraan rakyat Kolaka khususnya, dan masyarakat Sultra pada umumnya. Karena itu, jangan sampai hasilnya hanya dinikmati oleh pejabat dan investor,” ungkapnya.
Momentum Hari Kesaktian Pancasila, kata Ashar, harus menjadi titik balik bagi pejabat di Sultra untuk mengubah cara pandang dan bersikap amanah kepada rakyat. Ia menegaskan, pengkhianatan terhadap Pancasila berarti pengkhianatan terhadap rakyat sendiri.
“Kesaktian Pancasila yang sesungguhnya adalah ketika pejabat berhenti merampas hak rakyat dan menghentikan kesombongan mereka. Ingat, pejabat digaji oleh rakyat, bukan untuk berkhianat kepada rakyat,” pungkas Ashar. Kamis, 2/10/2025 disalah satu warlop ternama di kota kendari.













