Example 728x250
BeritaDaerah

Gubernur Andi Sumangerukka Dorong Hilirisasi, Sultra Siap Jadi Pusat Perkebunan Nasional

117
×

Gubernur Andi Sumangerukka Dorong Hilirisasi, Sultra Siap Jadi Pusat Perkebunan Nasional

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tampil menjadi sorotan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Hilirisasi Komoditas Perkebunan yang digelar di Jakarta, Senin (22/9/2025). Rapat strategis ini dihadiri Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman, Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian, serta jajaran pemerintah daerah, dan menghasilkan kesepakatan penting untuk mempercepat hilirisasi sektor perkebunan di berbagai provinsi, termasuk Sultra yang dinilai memiliki potensi besar.

Dalam forum tersebut, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka menandatangani berita acara kesepakatan bersama Mendagri Tito Karnavian dan Mentan Andi Amran Sulaiman. Penandatanganan ini tidak hanya menjadi formalitas, tetapi menjadi komitmen bersama untuk mempercepat industrialisasi sektor perkebunan. Bagi Sultra, langkah ini sejalan dengan visi “Sulawesi Tenggara Maju Menuju Masyarakat Aman, Sejahtera, dan Religius.”

“Sultra memiliki kekayaan komoditas perkebunan yang sangat besar. Tetapi kalau hanya menjual bahan mentah, kesejahteraan petani akan stagnan. Hilirisasi adalah kunci agar nilai tambah bisa dinikmati langsung masyarakat, dan ekonomi daerah tumbuh berlipat,” ujar Andi Sumangerukka dengan tegas.

Sultra dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia, disusul jambu mete, pala, kelapa, lada, hingga tebu. Namun, sebagian besar hasil perkebunan itu selama ini keluar dalam bentuk bahan mentah. Kondisi ini membuat posisi tawar petani rendah. Dengan adanya hilirisasi, produk-produk perkebunan akan diolah terlebih dahulu di pabrik dalam daerah sebelum masuk pasar, baik domestik maupun ekspor.

Pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat telah menyiapkan sejumlah pabrik pengolahan. Di antaranya, pabrik kakao di Kolaka Utara dan Bombana, pabrik jambu mete di Bombana, serta pabrik gula berbasis tebu di Konawe Selatan. Kehadiran pabrik-pabrik tersebut diharapkan menjadi titik balik bagi peningkatan kesejahteraan petani sekaligus membuka ribuan lapangan kerja baru.

Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, Dr. LM Rusdin Jaya, menuturkan bahwa hilirisasi akan mengubah wajah ekonomi Sultra. “Petani tidak lagi hanya menjual hasil panen mentah, tetapi bisa mendapatkan keuntungan tambahan dari produk olahan. Ini akan menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing produk kita di pasar global,” jelasnya.

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menyambut positif langkah Sultra yang proaktif mendorong hilirisasi. Ia menyebut pemerintah pusat siap mendukung penuh, baik dari sisi anggaran, teknologi, maupun program pendampingan. “Kami ingin Sultra menjadi contoh sukses hilirisasi di Indonesia timur. Ini akan menjadi model yang bisa direplikasi daerah lain,” katanya.

 

Meski penuh optimisme, rapat juga membahas sejumlah tantangan yang harus segera diatasi. Mulai dari ketersediaan lahan clean and clear, akses benih unggul, hingga kesiapan petani dalam mengadopsi teknologi pengolahan. Pemerintah pusat dan daerah sepakat untuk memperkuat pendampingan, penyediaan infrastruktur pendukung, serta membangun ekosistem perkebunan yang berkelanjutan.

Pertemuan di Jakarta ini menegaskan bahwa Sultra kini tidak lagi hanya mengandalkan sektor pertambangan, tetapi serius menata masa depan melalui hilirisasi perkebunan. Komitmen bersama ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi daerah, sekaligus menempatkan Sultra sebagai episentrum hilirisasi perkebunan nasional.