Example 728x250
BeritaDaerahMuna

Nelayan 73 Tahun Dilaporkan Hilang di Perairan Bonea, Tim SAR Muna Lakukan Pencarian

44
×

Nelayan 73 Tahun Dilaporkan Hilang di Perairan Bonea, Tim SAR Muna Lakukan Pencarian

Sebarkan artikel ini

KENDARI – Seorang nelayan lanjut usia bernama La Toiki (73) dilaporkan hilang setelah pergi melaut di sekitar perairan Pantai Desa Bonea, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Hingga Selasa (10/3/2026), korban belum kembali ke rumah sehingga memicu kekhawatiran pihak keluarga dan masyarakat setempat.

Informasi mengenai hilangnya nelayan tersebut pertama kali diterima oleh Comm Centre Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari pada pukul 12.13 WITA. Laporan disampaikan oleh Ibu Salim, yang merupakan anak dari korban.

Kepala KPP Kendari, Amiruddin A.S, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai sebuah longboat dengan satu orang penumpang (POB) yang belum kembali dari aktivitas melaut.

“Laporan kami terima dari anak korban yang menyampaikan bahwa ayahnya belum kembali dari melaut di sekitar perairan Desa Bonea,” ujar Amiruddin.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Rescue Unit Siaga SAR Muna segera diberangkatkan menuju lokasi kejadian pada pukul 12.30 WITA untuk melakukan operasi pencarian dan pertolongan. Jarak antara Unit Siaga SAR Muna dengan lokasi kejadian diperkirakan sekitar 7 mil laut, sehingga tim harus menempuh perjalanan laut sebelum memulai proses penyisiran di area yang diduga menjadi lokasi hilangnya korban.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari keluarga dan rekan korban, La Toiki diketahui berangkat melaut pada Minggu, 8 Maret 2026 sekitar pukul 14.00 WITA bersama beberapa nelayan lainnya untuk mencari ikan di perairan sekitar Desa Bonea.

Namun sekitar pukul 14.30 WITA, korban terakhir kali terlihat oleh rekan-rekannya bergerak menuju area perairan Bonea untuk melakukan aktivitas menjaring ikan menggunakan perahunya.

“Korban terakhir terlihat menuju perairan Bonea untuk menjaring ikan. Setelah itu tidak ada lagi komunikasi maupun kabar mengenai keberadaannya,” jelas Amiruddin.

Keesokan harinya, Senin (9/3/2026) sekitar pukul 12.00 WITA, sebanyak sembilan rekan korban telah kembali ke desa setelah selesai melaut. Namun La Toiki tidak ikut kembali bersama mereka.

Kondisi tersebut membuat pihak keluarga mulai merasa khawatir, mengingat korban biasanya selalu kembali bersamaan dengan nelayan lain setelah selesai mencari ikan.

Keluarga korban bersama warga setempat sempat melakukan upaya pencarian secara mandiri dengan menyisir sejumlah titik di sekitar perairan tempat korban terakhir terlihat. Namun hingga saat laporan disampaikan kepada pihak SAR, korban masih belum ditemukan.

Dalam operasi pencarian ini, Tim SAR gabungan melibatkan berbagai unsur, di antaranya Staf Operasi KPP Kendari, Rescuer Unit Siaga SAR Muna, masyarakat sekitar, serta keluarga korban.

Untuk mendukung proses pencarian, tim menggunakan berbagai peralatan seperti Rescue Car, Rigid Inflatable Boat (RIB), longboat, peralatan evakuasi, perlengkapan medis, alat komunikasi, serta perlengkapan keselamatan lainnya.

Tim SAR gabungan saat ini terus melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian serta area perairan yang diduga menjadi jalur pergerakan korban, dengan harapan korban dapat segera ditemukan.

Kepala KPP Kendari Amiruddin A.S menegaskan bahwa operasi pencarian akan terus dilakukan secara maksimal dengan melibatkan seluruh unsur yang ada di lapangan.

“Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian. Setiap perkembangan dari operasi ini akan kami sampaikan lebih lanjut,” pungkasnya.

Laporan : Jaldin