Example 728x250
BeritaKesehatan

Dari Data ke Aksi, Audit Maternal Perinatal didorong perkuat Mutu Layanan Kesehatan Ibu dan Bayi di RSUD Kabupaten Muna Barat

82
×

Dari Data ke Aksi, Audit Maternal Perinatal didorong perkuat Mutu Layanan Kesehatan Ibu dan Bayi di RSUD Kabupaten Muna Barat

Sebarkan artikel ini

Penulis : Isra Yanti

Afiliasi : Program Studi Magister Kebidanan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

MUNA BARAT — Data kematian ibu dan bayi di Kabupaten Muna Barat menjadi pertimbangan penting dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Hasil penelitian kebijakan kesehatan menunjukkan bahwa penguatan Audit Maternal Perinatal Surveilans dan Respons (AMP-SR) berperan strategis sebagai mekanisme pembelajaran sistem untuk mencegah kematian yang dapat dicegah.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, pada tahun 2024 Kabupaten Muna Barat mencatat 5 kasus kematian ibu dan 9 kasus kematian neonatal. Data September 2025, jumlah kematian ibu yang dilaporkan masih 5 kasus, dengan 7 kasus kematian neonatal. Di tingkat fasilitas rujukan, RSUD Kabupaten Muna Barat pada tahun 2024 mencatat 3 kasus kematian ibu, 9 kematian bayi, serta 3 kasus lahir mati. Sementara pada tahun 2025 tercatat 1 kasus kematian ibu, 5 kematian bayi, dan 3 kasus lahir mati.

Seluruh kasus tersebut telah melalui proses identifikasi dan pelaporan sesuai sistem notifikasi nasional.

Hasil studi yang menganalisis implementasi AMP-SR di rumah sakit daerah menunjukkan bahwa pelaksanaan audit kematian maternal dan perinatal masih belum berjalan sebagai satu siklus utuh. Penelitian tersebut menemukan bahwa proses audit umumnya berhenti pada tahap identifikasi dan pelaporan, sementara tahapan pengkajian kasus secara multidisipliner serta penyusunan respons perbaikan layanan belum terlaksana secara. Temuan ini sejalan dengan hasil scoping review nasional yang menunjukkan bahwa cakupan pengkajian AMP-SR di tingkat kabupaten/kota di Indonesia baru mencapai sekitar 14,29 persen, sementara tahap respons baru 28,57 persen (Ambarwati et al., 2023).

Temuan serupa juga dilaporkan dalam systematic review di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah,menyimpulkan bahwa efektivitas sistem Maternal and Perinatal Death Surveillance and Response (MPDSR) sangat bergantung pada keberfungsian seluruh siklus audit, khususnya tindak lanjut rekomendasi. Studi tersebut menegaskan bahwa keterbatasan sumber daya manusia, lemahnya dukungan manajerial, kekhawatiran terhadap budaya menyalahkan (blame culture), serta rendahnya integrasi audit ke dalam sistem mutu rumah sakit menjadi faktor utama terhambatnya implementasi MPDSR di negara berpenghasilan rendah dan menengah (Willcox et al., 2023)(Willcox et al., 2024).

Penelitian lain yang dilakukan di sejumlah rumah sakit rujukan di Indonesia menunjukkan bahwa penguatan tata kelola internal, dukungan kepemimpinan rumah sakit, serta integrasi audit kematian ke dalam sistem manajemen mutu terbukti meningkatkan kualitas proses review kasus dan mendorong tindak lanjut rekomendasi, meskipun masih menghadapi tantangan pada aspek kapasitas dan kelengkapan data (Pusponegoro et al., 2025).

Hasil penelitian tersebut menegaskan bahwa keterbukaan data kematian bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk pembelajaran berkelanjutan. Dengan menjadikan AMP-SR sebagai bagian dari sistem peningkatan mutu dan keselamatan pasien, setiap kasus kematian dapat dianalisis untuk mengidentifikasi faktor medis dan non medis yang dapat dimodifikasi, serta diterjemahkan menjadi perbaikan layanan yang nyata.

Kedepannya, hasil penelitian merekomendasikan penguatan AMP-SR melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, integrasi dengan sistem mutu rumah sakit, serta dukungan anggaran yang berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis bukti tersebut, AMP-SR diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban pelaporan, tetapi berkembang menjadi instrumen pembelajaran sistem yang efektif dalam menurunkan kematian ibu dan bayi di daerah.