Example 728x250
BeritaDaerahInternasional

Wakili Sultra, Kadispar Ridwan Badallah Paparkan Potensi Ekonomi Biru dan Marine Biomedicine di Forum Maritim Internasional 2026

4
×

Wakili Sultra, Kadispar Ridwan Badallah Paparkan Potensi Ekonomi Biru dan Marine Biomedicine di Forum Maritim Internasional 2026

Sebarkan artikel ini

FUJIAN, TIONGKOK – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Dr. Ridwan Badallah, mewakili Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka menjadi pembicara dalam forum Marine Biomedicine and Blue Economic Development pada rangkaian The World Maritime Equipment Conference 2026,Jumat (16/10/2026) di Fujian, Tiongkok.

Forum internasional ini dihadiri perwakilan dari 80 negara di Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa, serta menjadi wadah pertukaran gagasan dan pengembangan kerja sama di bidang kemaritiman, biomedis kelautan, dan ekonomi biru. Kegiatan ini melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dan pelaku industri maritim global.

Dalam sesi Panel Discussion, Ridwan tampil sebagai Head of the Tourism Office of Southeast Sulawesi Province, Indonesia Bersama sejumlah pembicara internasional, ia membahas peluang pengembangan potensi maritim dan kerja sama lintas negara untuk pemanfaatan sumber daya laut berkelanjutan.

Dalam paparannya, Ridwan memetakan potensi ekonomi biru dan _marine biomedicine_ Sultra yang tersebar di 17 kabupaten/kota ke dalam empat wilayah utama:

– Wilayah I:Kolaka, Kolaka Timur, dan Bombana

– Wilayah II: Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Kota Kendari, Konawe Utara, dan Konawe

– Wilayah III:Buton Tengah, Muna, Muna Barat, dan Buton Utara.

Potensi tersebut mencakup wilayah kelola laut, garis pantai, hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang, rawa, danau, sungai besar, hingga sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Ia juga memaparkan keberadaan pelabuhan perikanan beserta fasilitas dan infrastruktur pendukung sebagai modal penguatan konektivitas dan industri maritim.

Untuk _marine biomedicine_, Sultra memiliki kekayaan ekosistem laut yang ditopang terumbu karang terutama di Wakatobi, serta biota laut seperti ikan laut, mangrove, dan spons laut yang berpeluang dikembangkan melalui riset, inovasi, dan pemanfaatan hayati laut berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem.

Dari sektor perikanan, Sultra berada dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 713 dan 714. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) di WPPNRI 713 sebesar 697.730 ton per tahun dan WPPNRI 714 sebesar 731.486 ton per tahun.

Berdasarkan data sementara Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra tahun 2025, produksi perikanan tangkap meliputi tuna 16.021 ton, cakalang 19.753 ton, dan tongkol 16.489 ton dengan peluang pasar ekspor ke Jepang, Belanda, Singapura, Australia, Thailand, dan Amerika Serikat. Sementara potensi budidaya rumput laut tercatat 212.992 ton.

Ridwan menegaskan, potensi tersebut menjadi modal strategis Sultra untuk mengembangkan ekonomi biru yang tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan, penguatan inovasi, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Pemprov Sultra, lanjutnya, terbuka menjalin kerja sama pengembangan ekonomi biru dan inovasi maritim dengan Provinsi Fujian maupun negara-negara peserta lain seperti Singapura, Polandia, dan Maroko, meliputi pertukaran pengetahuan, riset kelautan, pengembangan bioteknologi laut, penguatan industri perikanan, dan pemanfaatan teknologi untuk nilai tambah sumber daya maritim.

Keikutsertaan Sultra dalam forum ini diharapkan dapat memperluas jejaring kerja sama internasional, memperkenalkan potensi daerah, serta mendorong investasi dan inovasi untuk mewujudkan ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan.

Laporan : Redaksi