Example 728x250
BeritaDaerahUHO

Pembinaan Mahasiswa ADik Dikti UHO Hadirkan Empat Materi Strategis, Cetak Generasi Muda Berkarakter dan Berdaya Saing

9
×

Pembinaan Mahasiswa ADik Dikti UHO Hadirkan Empat Materi Strategis, Cetak Generasi Muda Berkarakter dan Berdaya Saing

Sebarkan artikel ini

KENDARI – Kegiatan pembinaan mahasiswa Afirmasi Pendidikan (ADik) Dikti Universitas Halu Oleo (UHO) yang digelar di Hotel Azizah Syariah menghadirkan empat materi strategis. Keempat materi tersebut berfokus pada penguatan karakter kepemimpinan, peningkatan daya saing, pencegahan penyalahgunaan narkoba, serta penanaman wawasan kebangsaan dan semangat patriotisme.

Berdasarkan pantauan media ini, kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu, 14 Oktober hingga Jumat, 16 Oktober 2026.

Diketahui, penerima Beasiswa Afirmasi ADik sebanyak 44 orang, terdiri dari 28 orang dari UHO dan 16 orang dari Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka. Kegiatan berlangsung kondusif.

Kegiatan ini dirancang untuk membangun kebersamaan, meningkatkan komunikasi, serta memperkuat kemampuan kerja sama antarmahasiswa. Antusiasme peserta terlihat tinggi sejak awal kegiatan. Suasana yang kondusif turut mendukung proses penyampaian materi dan interaksi antara peserta dengan pemateri.

Melalui rangkaian pembinaan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh tambahan wawasan, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Materi pertama bertajuk “Menjadi Pemimpin Muda; Berkarakter, Berprestasi, dan Berdampak” dibawakan oleh Dr. Herman, S.H., LL.M.

Dalam paparannya, Dr. Herman mengajak mahasiswa untuk mengenali dan mengelola potensi diri sebagai bekal menjadi pemimpin. Menurutnya, setiap anak muda memiliki potensi, namun tidak semua menyadari dan mengelolanya dengan baik.

“Karena kalian adalah generasi muda, maka bagaimana mengelola potensi kita. Dalam konteks kepemimpinan, bagaimana kita bisa memotret diri kita. Di dalam diri kita ini, apa yang menjadi potensi, potensi itu ada yang bisa dibentuk,” kata Herman.

Ketgam : Materi 1

Ia menjelaskan, potensi kepemimpinan tidak hanya soal bakat bawaan. Potensi juga dapat dibentuk melalui proses belajar, latihan, pengalaman organisasi, serta pembinaan karakter yang berkelanjutan. Seorang pemimpin tidak lahir secara instan, melainkan ditempa melalui kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Lebih lanjut, Herman menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan seseorang sangat ditentukan oleh karakternya. Kecerdasan dan keterampilan memang penting, tetapi tanpa karakter yang kuat, kepemimpinan akan mudah goyah ketika menghadapi tekanan, godaan, dan tantangan.

“Yang terpenting adalah apakah kita mau mengasah potensi kita. Kalau kita mampu mengasah karakter kita,” ujarnya.

Mahasiswa didorong untuk tidak hanya berorientasi pada pencapaian pribadi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar. Karakter yang kuat, kedisiplinan, integritas, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bekal penting dalam membangun kepemimpinan yang berkualitas.

Materi kedua bertajuk “Dari Papua untuk Indonesia; Menjadi Mahasiswa Berdaya Saing dan Bermartabat” disampaikan oleh Dr. Kelly Opas Krey, S.Pd.,M.Si.

Materi ini menekankan pentingnya membangun kualitas sumber daya manusia mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan zaman dan bersaing secara positif di tingkat nasional maupun lebih luas. Mahasiswa diajak untuk melihat keberagaman bukan sebagai pembatas, melainkan sebagai kekuatan yang memperkaya bangsa.

Dr. Kelly Opas Krey menyampaikan bahwa mahasiswa dari Papua memiliki potensi besar yang sama dengan mahasiswa dari daerah lainnya. Setiap mahasiswa, dari mana pun asalnya, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, berprestasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.

Pesan “Dari Papua untuk Indonesia” dimaknai sebagai komitmen untuk membawa nilai-nilai positif, semangat belajar, kerja keras, dan rasa tanggung jawab dari daerah asal menuju panggung nasional. Mahasiswa Papua diharapkan mampu menjadi duta daerahnya, sekaligus menjadi bagian dari generasi Indonesia yang bersatu dalam keberagaman.

Ketgam : Materi 2

Daya saing yang dimaksud bukan sekadar bersaing untuk menjadi yang terbaik secara individu, tetapi bersaing secara sehat dan positif. Mahasiswa didorong untuk terus meningkatkan kualitas diri, memperluas pengetahuan, mengasah keterampilan, serta membangun sikap pantang menyerah dalam menghadapi persaingan di dunia akademik, dunia kerja, maupun kehidupan sosial.

Selain daya saing, aspek bermartabat juga menjadi penekanan utama. Bermartabat berarti menjaga harga diri, menjunjung tinggi nilai-nilai moral, menghormati diri sendiri dan orang lain, serta bertindak dengan integritas dalam setiap situasi.

Dalam pemaparannya, mahasiswa didorong untuk membangun kompetensi diri agar mampu menghadapi tantangan di dunia nyata. Ada empat aspek penting yang perlu dikembangkan, yakni kompeten, adaptif, inovatif, dan berorientasi pada hasil.

Mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, menciptakan gagasan baru, serta menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Materi ketiga bertajuk “Generasi Emas Bebas Narkoba: Say No to Drugs, Say Yes to Prestasi; Memahami Bahaya, Hukum dan Rehabilitasi” dibawakan oleh Kepala BNN Provinsi Sulawesi Tenggara.

Materi ini menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap risiko penyalahgunaan narkoba, konsekuensi hukum, serta pemahaman mengenai rehabilitasi. Mahasiswa diharapkan mampu membentengi diri dari pengaruh negatif pergaulan dan menjadikan pendidikan, prestasi, serta pengembangan diri sebagai prioritas.

Dalam penyampaiannya, pemateri menjelaskan bahwa kelompok usia produktif, yakni usia 15 sampai 49 tahun, merupakan kelompok yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Jika generasi pada usia tersebut terpapar narkoba, hal itu berpotensi menghambat tercapainya Indonesia Emas.

Ketgam : Materi 3

“Mengapa generasi muda dapat berpotensi menghambat tercapainya Indonesia Emas? Nah jelas, kalau sudah dia pakai narkoba, mana dia bisa berprestasi? Tidak akan bisa,” ujarnya.

Ia menambahkan, penyalahgunaan narkoba pada remaja juga dapat menjerumuskan mereka ke dalam pergaulan negatif yang semakin menghambat potensi diri dan cita-cita mereka.

Pemateri kemudian mengajak peserta untuk membandingkan dua kondisi, yakni Indonesia Emas dan Indonesia Cemas. Indonesia Emas hanya dapat terwujud jika generasi mudanya sehat, cerdas, dan berkarakter. Sebaliknya, jika generasi muda tidak sehat, tidak cerdas, dan tidak berkarakter, maka yang akan terjadi adalah Indonesia Cemas.

“Kalau kita lihat, kalau generasi yang sekarang menyalahgunakan narkoba, bukan Indonesia Emas yang kita akan dapat. Jadi yang kita dapat adalah Indonesia Cemas,” katanya.

Selain itu, mahasiswa diingatkan bahwa bonus demografi yang dimiliki Indonesia harus dijadikan peluang, bukan justru disia-siakan. Generasi muda adalah kekuatan bangsa. Mahasiswa yang saat ini berusia belasan hingga pertengahan dua puluhan tahun merupakan generasi yang akan menentukan tercapainya Indonesia Emas pada tahun 2045.

“Anda-anda ini adalah kekuatan. Siapa lagi yang akan mencapai Indonesia Emas tahun 2045 kalau bukan Anda-anda,” ujarnya.

Oleh karena itu, mahasiswa diminta untuk tidak mudah terpengaruh oleh ajakan negatif dan pergaulan yang merusak. Mereka didorong untuk memilih lingkungan pergaulan yang sehat, menjaga prinsip diri, serta mengisi masa muda dengan kegiatan yang positif dan produktif.

Mahasiswa juga dibekali pemahaman tentang konsekuensi hukum bagi penyalahguna, pengedar, maupun pihak yang terlibat dalam peredaran narkoba. Pemahaman ini penting agar mahasiswa menyadari bahwa penyalahgunaan narkoba bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan hukum yang memiliki sanksi tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Materi ini juga membahas rehabilitasi sebagai upaya pemulihan bagi penyalahguna narkoba agar dapat kembali menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Rehabilitasi tidak hanya berupa pengobatan, tetapi juga proses pendampingan, pembinaan mental, spiritual, dan sosial agar mantan penyalahguna mampu kembali beradaptasi dengan masyarakat.

Mahasiswa didorong menjadi agen pencegahan di lingkungan kampus dan masyarakat. Mereka memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi yang benar mengenai bahaya narkoba, mengajak teman-temannya untuk hidup sehat, serta menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari narkoba.

Materi keempat bertajuk “Generasi Muda Penerus Bangsa: Wawasan Kebangsaan dan Semangat Patriotisme” disampaikan oleh Kapten Ckm Laode Muh. Ilham, S.Kep., M.M.

Kata dia, Bagi mahasiswa penerima program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik), wawasan kebangsaan dan patriotisme sangat penting untuk membentuk karakter generasi muda yang berintegritas, berjiwa nasionalis, dan memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kepedulian sosial, semangat persatuan, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Lanjut, Mahasiswa harus mampu menjadi agen perubahan, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, serta bangsa Indonesia.

Ketgam : Materi 4

Lebih lanjut, Wawasan kebangsaan tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Mahasiswa yang memiliki wawasan kebangsaan yang kuat akan mampu menghargai perbedaan, menjaga toleransi, menolak perpecahan, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Diketahui setelah seluruh materi selesai, peserta diberangkatkan menuju lokasi outbound menggunakan bus mobilisasi. Setelah ISOMAH, peserta mengikuti Fun Games Day bertajuk “Let’s Play, Connect, and Grow” yang dipandu Event Games. Kegiatan ini dirancang untuk membangun kebersamaan serta melatih kerja sama tim melalui permainan yang edukatif dan menyenangkan.

Foto Bersama:

Ketgam : Foto Bersama

Laporan : Redaksi