BOMBANA – Di balik gelombang laut dan keterbatasan hidup sebagai nelayan kecil, sebuah mimpi besar terus dipelihara dengan disiplin dan ketekunan. Namun tanpa kehadiran nyata negara, mimpi itu terancam padam sebelum sempat bersinar. Rendy Pratama, pemuda Bajau kelahiran Desa Baliara, Kecamatan Kabaena Barat, Kabupaten Bombana, 14 Juli 2003, menjadi potret jelas talenta daerah yang tumbuh dari kesederhanaan, tetapi belum mendapat perhatian serius pemerintah.
Sehari-hari, Rendy membantu orang tuanya melaut demi menopang ekonomi keluarga. Di luar aktivitas tersebut, ia dikenal luas sebagai penyanyi berbakat dengan penguasaan lintas genre musik—mulai dari dangdut, pop, hingga rock. Keistimewaan Rendy tidak berhenti di situ. Ia juga aktif menciptakan dan membawakan lagu-lagu berbahasa suku Bajau yang kerap ditampilkan dalam acara adat, hiburan rakyat, hingga perlombaan seni.
Rekam jejak prestasinya tidak diragukan. Dalam berbagai lomba karaoke tingkat kabupaten, nama Rendy hampir selalu tercatat sebagai juara pertama. Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa Rendy tidak hanya memiliki kualitas vokal yang kuat, tetapi juga karakter dan mental panggung yang matang—modal penting untuk bersaing di level nasional.
Pada 2025 lalu, Rendy sempat mendaftar mengikuti ajang Dangdut Academy (DA) 7. Persiapan dilakukan dengan serius dan penuh harapan. Namun langkahnya terhenti bukan karena gugur dalam seleksi, melainkan akibat keterbatasan biaya serta ketiadaan dukungan dari pemerintah daerah maupun lingkungan asalnya.
“Bukan karena saya tidak mampu atau takut bersaing. Tapi karena keterbatasan biaya dan tidak adanya dukungan, saya terpaksa berhenti di tengah jalan,” ujar Rendy lirih.
Di balik kegigihannya, Rendy tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai disiplin dan kejujuran sebagai fondasi utama pembentukan karakter. Nilai-nilai tersebut menjadi pegangan hidupnya, baik saat melaut maupun ketika menapaki dunia seni.
“Orang tua saya selalu menekankan disiplin dan kejujuran. Itu yang membentuk saya sampai hari ini,” tuturnya.
Kini, Rendy kembali menatap masa depan dengan tekad mengikuti Dangdut Academy 8 pada 2026. Namun harapan tersebut kembali bertumpu pada satu hal krusial: kehadiran dan kepedulian nyata pemerintah daerah dalam membina dan mendukung potensi anak daerah.
Tokoh pendidikan Sulawesi Tenggara, Dr. Milwan, S.Pd., M.Pd., menilai kisah Rendy sebagai cerminan lemahnya keberpihakan kebijakan terhadap talenta lokal dari kalangan masyarakat kecil.
“Rendy adalah contoh nyata anak daerah yang memiliki bakat, prestasi, dan karakter kuat, tetapi terhambat oleh sistem yang belum hadir secara optimal. Pemerintah daerah seharusnya tidak hanya hadir dalam seremoni, tetapi juga dalam pembinaan dan pendampingan konkret,” tegasnya.
Menurut Dr. Milwan, dukungan terhadap talenta seperti Rendy bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan tanggung jawab konstitusional negara dalam menjamin keadilan akses bagi seluruh warga.
“Jika anak nelayan mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional, itu adalah kebanggaan bersama. Negara tidak boleh absen hanya karena ia lahir dari keluarga sederhana,” tambahnya.
Kisah Rendy Pratama menjadi pengingat bahwa bakat besar bisa gugur bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena abainya sistem. Pemerintah Kabupaten Bombana, khususnya dinas terkait, diharapkan segera mengambil langkah konkret melalui program pembinaan seni, dukungan pendanaan, serta fasilitasi keberangkatan agar mimpi anak daerah tidak kembali kandas.
Tanpa kehadiran nyata pemerintah, potensi emas daerah berisiko hilang sebelum sempat bersinar di panggung nasional.
Laporan : Tim













