Example 728x250
BeritaDaerah

Sekda Sultra Tegaskan Pentingnya Sinergi dalam Percepatan Penurunan Stunting di Sulawesi Tenggara

40
×

Sekda Sultra Tegaskan Pentingnya Sinergi dalam Percepatan Penurunan Stunting di Sulawesi Tenggara

Sebarkan artikel ini
Ketgam : Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. H. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D., didampingi beberapa OPD

KENDARI – Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. H. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D., menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tenggara tidak dapat berjalan optimal tanpa sinergi dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Hal ini disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Sulawesi Tenggara 2025 yang digelar di Kendari, Kamis (13/11/2025).

Dalam paparannya, Sekda Asrun Lio menjelaskan bahwa secara nasional angka stunting mengalami penurunan sebesar 7,9 persen dalam lima tahun terakhir. Namun, pemerintah provinsi menilai penurunan tersebut harus diikuti langkah-langkah percepatan yang lebih terarah di daerah. Sulawesi Tenggara sendiri menargetkan penurunan signifikan hingga tahun 2029 dengan pendekatan program yang terintegrasi, komprehensif, dan berbasis data.

“Penurunan stunting bukan hanya isu kesehatan. Ini merupakan kerja besar untuk memastikan masa depan generasi kita. Anak-anak yang tumbuh sehat dan terpenuhi gizinya adalah fondasi Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, Sekda menekankan bahwa keberhasilan penanganan stunting bergantung pada komitmen kepala daerah dalam memperkuat regulasi, mengalokasikan anggaran yang memadai, serta menjaga keberlanjutan program. Ia mengingatkan bahwa intervensi stunting bersifat multisektor tidak hanya kesehatan, tetapi juga pendidikan, sanitasi, ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Ia menguraikan beberapa langkah strategis yang perlu diprioritaskan daerah:

1. Penguatan regulasi dan anggaran daerah untuk memastikan kebijakan penurunan stunting berjalan secara terpadu dan tidak terputus setiap tahun.

2. Peningkatan efektivitas program lintas sektor, baik intervensi spesifik seperti pemenuhan gizi dan layanan kesehatan ibu-anak, maupun intervensi sensitif seperti penyediaan air bersih, sanitasi, dan edukasi keluarga.

3. Optimalisasi perencanaan dan evaluasi berbasis data, termasuk pemutakhiran data balita, ibu hamil, dan indikator gizi di tingkat desa.

4. Penguatan strategi komunikasi perubahan perilaku, yang menekankan edukasi gizi, pola asuh, kebersihan lingkungan, dan kesadaran masyarakat dalam mencegah stunting sejak dari rumah.

Dalam kesempatan itu, Sekda juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu langkah strategis nasional yang diyakini dapat mendorong percepatan penurunan stunting. Program tersebut telah didukung anggaran sebesar Rp71 triliun dan diperkuat dana cadangan Rp100 triliun. Menurutnya, jika dikawal dengan baik oleh daerah, MBG dapat memberikan dampak signifikan terutama pada anak-anak usia sekolah.

Rapat koordinasi ini dihadiri bupati dan wakil bupati se-Sultra atau perwakilannya, unsur kementerian, kepala OPD, akademisi, mitra pembangunan, serta media. Kehadiran multipihak tersebut mencerminkan bahwa penanganan stunting merupakan agenda nasional yang membutuhkan kerja kolaboratif mulai dari tingkat provinsi hingga desa.

“Dengan kerja bersama, sinergi nyata, dan komitmen yang tidak putus, kita dapat mencapai target penurunan stunting yang lebih baik. Ini bukan hanya soal program, tetapi investasi jangka panjang bagi generasi emas Sulawesi Tenggara,” tutup Sekda.