MUNA BARAT – Ditengah geliat kreativitas warga desa, nama Suratman muncul sebagai salah satu pelaku ekonomi kreatif yang sukses mengolah limbah plastik dan kayu bekas menjadi kerajinan tangan bernilai tinggi berupa bonsai hias permanen.
Bertempat di Desa Parurajaya, Kecamatan Tiworo Selatan, Kabupaten Muna Barat, Suratman mengubah limbah kayu bekas, dan serpihan-serpihan akar dari kebun yang sudah tidak terpakai serta kayu sisa bangunan atau ranting mati menjadi miniatur bonsai yang indah dan artistik.

“Semua bahan saya dapat dari lingkungan sekitar, bahkan dari kebun yang tergelatak tak terpakai, Kayunya saya ambil dari limbah pertukangan atau ranting-ranting kering.,” ujar Suratman saat ditemui di bengkel kecilnya, Minggu (13/7/2025).
Dengan sentuhan tangan kreatif, kayu bekas dibentuk menjadi batang dan cabang utama, sementara daun dan ornamen lain dari plastik disusun sedemikian rupa agar tampak alami. Ia juga menambahkan pot hasil buatan sendiri dari sentuhan bubutan juga sehingga menjadikan hasil akhir tampak seperti bonsai hidup yang elegan.

Setiap karya dijual mulai dari Rp50.000 hingga Rp2.000.000 tergantung ukuran dan kompleksitasnya. Tidak hanya sebagai hiasan rumah, banyak pelanggan menjadikannya sebagai cendera mata, dekorasi acara, atau suvenir kantor.
Yang membanggakan, Suratman mengusung semangat ekonomi hijau juga memanfaatkan limbah alam dan pemberdayaan desa. Ia tidak hanya fokus menjual, tetapi juga ingin mengajak warga sekitar, khususnya pemuda dan ibu rumah tangga, untuk belajar membuat kerajinan serupa.
“Kalau ada pelatihan dan dukungan dari pemerintah, saya siap berbagi ilmu. Ini bukan hanya soal hiasan, tapi peluang usaha desa yang bisa berkembang ke luar daerah,” tambahnya.

Karyanya kini mulai dikenal hingga luar Kecamatan Tiworo Selatan, bahkan telah diikutkan dalam pameran UMKM tingkat kabupaten. Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Koperasi dan UMKM atau Dinas Lingkungan Hidup, bisa memberikan dukungan dalam bentuk promosi, pelatihan, dan bantuan alat produksi.
Kisah Suratman menjadi bukti bahwa dari desa, dari limbah, bisa lahir karya seni yang bernilai dan berkelanjutan, membuka peluang baru dalam dunia kerajinan tangan dan pelestarian lingkungan.













