Example 728x250
BeritaEkobis

Dari Perahu Layar Wawonii ke Kursi Gubernur: Janji Pengabdian Andi Sumangerukka

30
×

Dari Perahu Layar Wawonii ke Kursi Gubernur: Janji Pengabdian Andi Sumangerukka

Sebarkan artikel ini

SULTRA – Bagi Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka (ASR), jabatan bukanlah tentang kemewahan fasilitas atau kekuasaan semata. Di balik posisinya sebagai orang nomor satu di Bumi Anoa hari ini, tersimpan sebuah janji batin yang telah tertanam sejak masa kecilnya. Janji itu lahir dari kenangan sederhana tentang ketulusan rakyat di Pulau Wawonii—kenangan yang hingga kini terus membentuk cara pandangnya dalam memimpin.

Kisah itu bermula pada tahun 1965. Saat itu ASR masih balita, baru berusia sekitar dua tahun, ketika mengikuti sang ayah, Andi Baso Syam Daud, seorang perwira TNI berpangkat Letnan Satu yang mendapat penugasan di Sulawesi Tenggara. Tak lama kemudian, setelah naik pangkat menjadi Kapten, ayahnya dipercaya oleh Gubernur Sulawesi Tenggara saat itu, Eddy Sabara, untuk memimpin Kecamatan Wawonii.

“Kamu bertugas di Wawonii sampai saya datang ke sana Molulo,” pesan Gubernur Eddy Sabara kepada ayahnya kala itu.

Pulau Wawonii pada masa itu masih sangat sederhana. Transportasi laut menjadi satu-satunya penghubung dengan Kota Kendari. Setiap kali sang ayah hendak menyeberang untuk urusan dinas, warga setempat dengan sukarela menyiapkan perahu layar.

Tidak ada mesin tempel seperti sekarang. Mereka hanya mengandalkan kekuatan angin untuk membelah laut.

Jika angin bertiup baik, perjalanan dapat dilalui lebih cepat. Namun jika angin bersahabat dengan diam, perjalanan bisa memakan waktu berhari-hari di tengah lautan.

Namun yang paling membekas dalam ingatan ASR bukanlah sulitnya perjalanan itu. Yang ia ingat justru ketulusan warga Wawonii.

Mereka tidak pernah meminta bayaran.

Bahkan ketika keluarga camat tiba di tujuan, warga justru menyambut dengan makanan sederhana sebagai bentuk penghormatan. Mereka memberi dengan tulus, meski kehidupan mereka sendiri jauh dari kata berlebih.

Kenangan itulah yang terus tersimpan dalam hati Andi Sumangerukka hingga kini.

“Bapak saya meninggal dunia sebelum sempat membalas kebaikan mereka,” kenangnya suatu waktu.

Sejak saat itu, dalam dirinya tumbuh keyakinan sederhana: kebaikan rakyat harus dibalas dengan pengabdian yang tulus.

Mengikuti jejak pengabdian sang ayah, ASR kemudian menempuh pendidikan militer di AKABRI (kini Akademi Militer) dan lulus pada tahun 1987. Karier militernya terus menanjak hingga mencapai salah satu posisi strategis sebagai Panglima Kodam XIV Hasanuddin.

Di lingkungan prajurit, ia dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan dekat dengan anggotanya. Prinsip hidupnya pun sederhana namun kuat:

“Bersedekah adalah kebahagiaan saya.”

Prinsip itu tidak berhenti pada kehidupan pribadi. Kini, sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara, ia mencoba menerjemahkan nilai tersebut ke dalam kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan.

Di tengah kondisi fiskal negara yang sedang menghadapi tekanan serta berbagai penyesuaian anggaran, ASR mengambil langkah yang tidak lazim bagi seorang kepala daerah. Ia memilih tidak mengambil fasilitas negara yang melekat pada jabatannya.

Gaji, tunjangan, hingga berbagai hak materiil lainnya ia lepaskan.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia rela menggunakan sumber daya pribadinya untuk membantu menutup keterbatasan fiskal agar program pembangunan tetap berjalan.

Baginya, masyarakat tidak bisa menunggu terlalu lama untuk merasakan manfaat pembangunan.

Langkah ini bukanlah untuk menunjukkan sikap populis atau sekadar mencari simpati. ASR berpegang pada sebuah filosofi kepemimpinan yang sederhana namun tegas:

“Ikan busuk dimulai dari kepalanya.”

Artinya, jika pemimpin tidak menjaga integritas, maka kerusakan akan merambat ke seluruh sistem.

Karena itu, ia ingin memastikan bahwa “kepala” dalam pemerintahan tetap bersih. Dengan memberi contoh dari atas, ia berharap seluruh jajaran birokrasi dapat menjaga integritas yang sama.

Di awal masa pemerintahannya, ASR menyadari bahwa membangun Sulawesi Tenggara tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran. Yang jauh lebih penting adalah tata kelola pemerintahan yang bersih, efisien, dan terarah.

Dalam proses penataan itu, ia menemukan persoalan besar: sekitar 800 aset milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berada dalam kondisi bermasalah.

Sebagian dikuasai pihak lain, sebagian lagi tidak memiliki dokumen yang jelas, bahkan ada yang arsipnya tidak tertata dengan baik.

Bagi ASR, persoalan ini tidak bisa dibiarkan.

Aset daerah adalah modal dasar pembangunan. Jika aset-aset tersebut dapat kembali dikelola dengan baik, maka pemerintah daerah memiliki ruang lebih besar untuk mengoptimalkan potensi ekonomi tanpa terlalu bergantung pada transfer dana dari pemerintah pusat.

Penataan aset tersebut kini mulai dilakukan secara bertahap dengan pendekatan skala prioritas, dimulai dari aset yang berstatus clean and clear atau memiliki dokumen kepemilikan yang jelas.

Di sisi lain, ASR juga memikirkan masa depan Sulawesi Tenggara dalam jangka panjang. Ia menyadari bahwa sektor pertambangan yang selama ini menjadi penopang ekonomi daerah tidak akan berlangsung selamanya.

Sumber daya alam suatu saat akan habis. Karena itu, menurutnya, sumber daya manusia harus dipersiapkan sejak sekarang.

Pembangunan juga harus diperkuat melalui konektivitas wilayah. Infrastruktur menjadi fondasi penting agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan merata oleh masyarakat.

Selain itu, ketahanan pangan juga menjadi perhatian utama. Masyarakat harus memiliki akses terhadap pangan yang cukup, terjangkau, dan aman untuk dikonsumsi.

Dari berbagai pertimbangan tersebut, ASR menetapkan empat prioritas utama pembangunan Sulawesi Tenggara, yaitu:

• Pendidikan

• Kesehatan

• Infrastruktur

• Pangan berbasis agromaritim

Empat pilar ini menjadi arah besar pembangunan daerah yang diharapkan mampu membawa Sulawesi Tenggara menuju masa depan yang lebih kuat dan mandiri.

Kini, di tengah perjalanan menjalankan amanah tersebut, Andi Sumangerukka merayakan hari kelahirannya yang jatuh pada 11 Maret.

Di usia yang semakin matang, ia terus membawa semangat pengabdian yang diwarisinya dari sang ayah serta ketulusan warga Wawonii yang pernah mengajarkannya arti memberi tanpa pamrih.

Momentum ulang tahun ini bukan sekadar perayaan pribadi. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat tentang janji batin yang pernah lahir dari sebuah perjalanan sederhana di atas perahu layar.

Janji untuk membalas kebaikan rakyat dengan pengabdian yang tulus.

Semoga langkah pengabdian itu terus terjaga hingga akhir masa jabatannya demi mewujudkan Sulawesi Tenggara yang maju, aman, sejahtera, dan religius.

Laporan : Redaksi