MUNA BARAT – Idul Fitri bukan sekadar momentum kembali kepada kesucian pribadi, melainkan panggilan untuk merajut solidaritas sosial. Bahwa di tengah keterbatasan fiskal, hanya dengan kebersamaanlah jalan menuju Muna Barat Liwu Mokesa akan terbuka lebar.
Tepat di fajar 1 Syawal 1447 H, gema takbir yang bersahutan di langit Muna Barat bukan sekadar penanda berakhirnya lapar dan dahaga. Ia adalah proklamasi kemenangan atas “pesantren” Ramadhan yang baru saja kita lalui. Sebulan penuh kita telah menempuh ritual tazkiyatun nafs pemurnian jiwa mengikis jelaga kesombongan, iri, dan kerakus yang seringkali menghuni palung hati. Hari ini, kita kembali menjadi fitri; layaknya bayi yang baru lahir, bersih lahir dan batin, membawa harapan baru di tanah yang kita cintai ini.
Namun, spiritualitas tak boleh berhenti di atas sajadah. Menjadi penting bagi kita untuk menarik benang merah antara kesucian Idul Fitri dengan denyut pembangunan di Kabupaten Muna Barat.
Kita harus jujur memandang cermin realitas, kondisi fiskal daerah kita memiliki keterbatasan saat ini. Namun, keterbatasan anggaran bukanlah tembok penghalang, melainkan undangan bagi kreativitas dan gotong royong. Di sinilah hikmah Idul Fitri menemukan bentuk nyatanya. Jika Ramadhan mengajarkan kita tentang zakat dan infak untuk memperkecil jurang antara si kaya dan si miskin, maka pembangunan Muna Barat pun membutuhkan spirit yang sama.
Angka Gini Ratio kita yang berada di posisi 0,291 pada 2025 adalah sebuah sinyal positif. Ia bercerita bahwa ketimpangan pengeluaran penduduk kita rendah, sebuah bukti bahwa pemerataan ekonomi bukan sekadar angan-angan. Namun, angka ini hanya akan tetap bermakna jika solidaritas sosial terus kita pupuk. Ketika masyarakat ikut mengambil bagian dalam menjaga kesejahteraan sesama, beban pemerintah menjadi ringan, dan pembangunan tak lagi terasa sebagai tugas satu arah, melainkan kerja kolosal sebuah keluarga besar.
Idul Fitri juga mengajarkan kita tentang seni menahan diri. Rayuan hidup konsumtif dan perilaku berlebih-lebihan harus kita tukar dengan pola hidup bersahaja namun tepat sasaran. Semangat ini harus terpatri dalam tata kelola anggaran daerah. Kita perlu meminimalkan seremoni yang hanya menyisakan riuh sesaat, dan mengalihkannya menjadi “belanja pro-rakyat”.
Setiap rupiah dari APBD harusnya menjadi benih yang tumbuh di sektor pertanian, berenang di sektor perikanan, dan berkembang di sektor peternakan. Itulah wujud nyata dari efisiensi yang bersumber dari nilai-nilai kejujuran spiritual.
Visi Bupati dan Wakil Bupati untuk mewujudkan Muna Barat Liwu Mokesa (Tumbuh, Sehat, dan Keren) bukanlah sekadar urusan membangun gedung atau jalan aspal. Kata “Keren” di sini adalah sebuah transformasi religiusitas. Masyarakat yang “Keren” adalah mereka yang memiliki karakter kuat, pola hidup yang tertib, interaksi sosial yang hangat, dan kepedulian yang mendalam pada tetangganya.
Pembangunan fisik tanpa jiwa yang bersih hanya akan menghasilkan kota yang megah namun sepi dari rasa kemanusiaan. “Keren” adalah ketika pembangunan infrastruktur bersenyawa dengan ketulusan hati masyarakatnya.
Pada akhirnya, Idul Fitri adalah panggilan untuk menumbuhkan “Tauhid Sosial”. Kita harus sadar bahwa Pemerintah Daerah tidak bisa melangkah sendirian di tengah keterbatasan. Hanya dengan kebersamaan, jalan terjal menuju Muna Barat yang mandiri akan terasa lapang.
Liwu Mokesa akan terwujud bukan hanya melalui tumpukan dokumen rencana, melainkan melalui hati yang saling terhubung, kepedulian yang tumbuh dari akar rumput, dan ketulusan yang dijaga hingga akhir. Mari melangkah dengan jiwa yang bersih, merajut masa depan Muna Barat dengan tangan-tangan yang saling menguatkan.
Laporan :Dedi













