Example 728x250
BeritaNasional

Optimisme 2026: Great Institute Nilai Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh

62
×

Optimisme 2026: Great Institute Nilai Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Di tengah kondisi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan tekanan geoekonomi, perekonomian Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan yang solid. Penilaian tersebut disampaikan Great Institute dalam konferensi pers bertajuk “Melangkah Maju di Tengah Ketidakpastian” yang digelar di kawasan Taman Gunawarman Timur, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Konferensi pers ini merupakan bagian dari pemaparan Economic Outlook 2026 Great Institute, yang mengulas dinamika ekonomi global, kinerja ekonomi nasional sepanjang 2025, serta proyeksi dan agenda transformasi ekonomi Indonesia pada 2026.

Direktur Eksekutif Great Institute, Dr. Sudarto, menyebut Indonesia sebagai anomali positif di tengah turbulensi ekonomi dunia. Menurutnya, saat banyak negara masih terjebak stagnasi bahkan krisis, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen.

“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, bahkan krisis di berbagai kawasan, Indonesia masih mampu tumbuh sehat. Ini bukan kondisi yang umum,” ujar Sudarto.

Ia menjelaskan, ketidakpastian global periode 2025–2026 dipicu oleh berlapis faktor, mulai dari manuver geopolitik Amerika Serikat di Venezuela, konflik Rusia–Ukraina yang berkepanjangan, ketegangan China–Taiwan, hingga eskalasi konflik di Laut China Selatan yang berdekatan dengan kawasan Indonesia. Selain itu, fragmentasi perdagangan global, menguatnya proteksionisme, serta dampak perubahan iklim turut memperburuk iklim ekonomi dunia.

Meski demikian, Indonesia dinilai berhasil menjaga stabilitas pertumbuhan berkat kuatnya permintaan domestik serta mulai berjalannya sejumlah program prioritas pemerintah. Salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga awal 2026 telah menjangkau sekitar 53,4 juta penerima. Program ini dipandang tidak hanya meningkatkan kualitas gizi, tetapi juga memberi efek berganda terhadap ekonomi melalui rantai pasok pangan dan penciptaan lapangan kerja.

Selain MBG, penguatan ekonomi desa melalui Koperasi Desa Merah Putih juga menjadi perhatian. Pada 2026, jumlah koperasi tersebut ditargetkan mencapai sekitar 82 ribu unit di seluruh Indonesia. “Penguatan ekonomi desa menjadi fondasi penting pemerataan dan ketahanan ekonomi nasional,” kata Sudarto.

Dalam paparannya, Great Institute mencatat konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Namun, Peneliti Desk Ekonomi Great Institute Adrian Nalendra mengingatkan adanya tantangan struktural berupa menyusutnya kelas menengah. Konsumsi dinilai masih berperan sebagai penyangga (shock absorber), belum sepenuhnya menjadi mesin akselerasi pertumbuhan.

Sementara itu, peneliti Adamski Pangeran menekankan pentingnya kepastian eksekusi kebijakan untuk menarik investasi. Menurutnya, investasi Indonesia sangat sensitif terhadap ketidakpastian global dan hambatan domestik, terutama terkait tata ruang, perizinan, dan debottlenecking.

Great Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,3–5,6 persen, dengan catatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter terjaga serta agenda transformasi struktural dijalankan secara konsisten.

Menutup konferensi pers, Sudarto menegaskan bahwa ketidakpastian global tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap defensif. “Justru dalam situasi seperti ini, Indonesia harus berani melangkah maju dengan kebijakan yang presisi, inklusif, dan berpihak pada ekonomi rakyat,” pungkasnya. (KM)